Kompor Gas?? Oh, No!

Ada apa dengan kompor gas? Kompor gas-terutama hasil subsidi pemerintah yang beratnya 3 kilogram itu membuat saya takut sekaligus trauma. Maksud saya-saya tidak akan pernah-walau saya nanti berumah tangga menggunakan kompor gas di rumah saya. Saya takut, kalau kompor gas itu menghabiskan nyawa saya. Tegasnya, saya tidak mau mati di tangan kompor gas! Tentu saya punya alasan untuk itu.

Program pemerintah untuk meringankan rakyat pun berjalan. Namun, belakangan diketahui, kalau tabung gas yang digunakan warga itu ternyata-bukan saja menguntungkan, tapi di sisi lain terdapat kekurangan. Sebagian warga mengeluhkan tidak adanya sosialisasi mengenai tata cara penggunaan tabung gas mungil 3 kilogram itu. Makanya, akibat salah memasang sambungan dari kompor ke tabung, banyak tabung gas yang meledak. Tak sedikit, korban meninggal pun berjatuhan. Saya tidak tahu, siapa yang patut dipersalahkan. Saya menduga, kualitas tabung gas yang dibagikan kepada warga tidak diperhatikan dengan baik oleh pemerintah.

http://jakarta.okezone.com

Tabung ini yang bikin saya trauma dan takut. (http://jakarta.okezone.com)

Sejak saat itu-saya memutuskan untuk ‘berani’ menolak, jika saja ada teman atau kerabat lainnya yang menyuruh saya menghidupkan kompor gas. Amat takut, ngeri pokoknya. Ternyata benar, saat saya kuliah-saya tentu sering, jika liburan main ke rumah saudara di Cianjur dan Tasikmalaya. Rata-rata, keluarga saya itu menggunakan kompor gas subsidi bila memasak.

“Cep, tolong masak air buat bibi mandi, ya,” kata saudara saya di Tasikmalaya kala itu. Deg-degan langsung menyergap. Saya pun tak mungkin menolak dengan mengatakan,”Enggak mau, Bi. Masak aja sendiri. Cecep enggak bisa ngidupin kompornya!” tentu merontokkan wibawa saya kalau kejujuran saya itu sampai terungkap di tengah rumah. Makanya, saya cari cara, gimana supaya air tetap dimasak tapi bukan saya yang menghidupkan kompor.

“Iya, Bi, bentar.” Bibi saya ke warung yang jaraknya kira-kira 50 meter dari rumah. Dan, sebenarnya, itu yang saya harapkan. Bila perlu, si bibi saya itu berlama-lama di warung, ngobrol ini-itu sama tetangga. Di rumah pun, saya bingung, saya harus meminta tolong ke siapa menghidupkan kompor gas ini. “Mang, ada Bibi?” suara bersumber dari pintu belakang rumah memecahkan kebingungan saya. “O, barusan ke warung, katanya mau beli terasi. Eh, Ndri, tolong hidupkan kompor gas dulu, mamang mau ke Wc dulu. Tolong, ya. Bisa, kan?”

“Mang…Andri mau ke warung dulu. Kompor idup, tuh!” Brakkk. Pintu nampak dianiaya anak lelaki bibi saya yang lain itu. Untung dia masih SD, kalau yang membanting sepantaran anak SMA, rasanya belah juga pintu dari kayu itu. “Alhamdulillah, ya Tuhan. Akhirnya bisa juga ngidupkan kompor ini,” celetuk hati saya. Saya tuangkan air bersih ke ceret alumunium, lalu dipanggang di atas kompor. Kompor bertabung gas 3 kilogram!

Andai orang tahu kalau saya ini tak bisa menghidupkan kompor gas, pastilah orang-orang, termasuk pembaca menyangka saya aneh. Bahkan, penilaiannya lebih dari itu. “Masak, gitu aja enggak bisa! Banci amat, tuh orang! Memalukan!”. Barangkali itu yang saat ini saya pikirkan. Sebagian orang pasti akan berujar seperti itu. Sebenarnya, saya pun merasa malu karena ketakutan saya yang berlebihan ini. Tapi mau gimana lagi. Saya terlanjur dibuat ngeri!

Saya mengatakan, kalau berumah tangga, saya juga tidak akan menggunakan kompor gas. Benarkah itu Cecep Hasannudin? Memangnya, istri saya nanti-orangnya juga anti kompor gas? Atau, dia juga memiliki ketakutan yang sama terhadap kompor gas? Nah, itu yang malah saya pikirkan sekarang. Bagaimana caranya saya bilang ke istri saya, kalau saya ini takut sama kompor gas, ya? Aduh, payah, nih!

Maka, saya lebih baik hidup di desa. Kalau mau masak, saya cari kayu bakar sebanyak-banyaknya. Apalagi, aroma masakan yang dimasak di tungku itu lebih khas dan enak-setidak-tidaknya, itu menurut pengalaman saya yang berasal dari desa di kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara. Saya akan memanfaatkan reranting kayu yang berserakan di kebun saya. Masak menggunakan kayu bakar tak terlalu beresiko menghabiskan nyawa seperti pakai kompor gas.

Daripada memasak pakai kompor gas, lebih baik begini kayak di rumah saya. Aman. (Hasan's foto)

Daripada memasak pakai kompor gas, lebih baik begini kayak di rumah saya. Aman. (Hasan’s foto)

Emak di desa pun menolak menerima kompor dan tabung gas dari pemerintah. Mendengar ini, saya-tanpa basa-basi langsung menyatakan setuju! Ya, itu tadi saya khawatir sama emak-bapak saya kalau menggunakan kompor gas di saat masak. “Kompor gas ada tuh di dapur. Enggak dipakai. Rencana mau dibalikkan ke pak RT. Enggak biasa makainya. Takut lagi, seperti kayak di berita banyak yang mati karena kompor gas!” emak saya bilang begitu. Horeee. Kata saya.

Jangan coba-coba menyuruh saya menghidupkan kompor gas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s