Bengkulu itu Pelosok?

Saya, pertama kali ke kota Palembang saat masih nyantri di pesantren Raudhatul Ulum Desa Sakatiga Kecamatan Indralaya. Saya ingat, ketika itu tahun 2003 saat kelas 3 Mts. Itu pun bukan sengaja ingin ke kota Pempek itu, tapi hanya sekedar lewat karena ingin safari da’wah ke Kabupaten Musi Banyuasin. Saat itu, keriuhan kotanya terasa sekali-meskipun saya melihatnya dari kendaraan. Pokoknya, saya bisa lihat Internasional Plaza (IP), kemegahan bangunan masjid Agung, dan bundaran yang ada air mancurnya.

Pada  tahun yang sama, saya kembali mengunjungi kota metropolis itu . Momennya berbeda saat itu. Kami para santri disuruh berdemo di depan kantor Gubernur Sumatera Selatan dan DPRD provinsi, menuntut penolakan terhadap disahkannya UUD Sisdiknas. Saat itu, saya tidak tahu persis, kenapa itu ditentang, lalu kenapa pula melibatkan para santri. Sungguh tak paham saat itu. Seingat saya,  ada sekitar 20 bis kota yang membawa santri ke Palembang untuk demo. Para santri, termasuk saya ikut-ikutan berteriak tak menentu sambil membawa spanduk yang kami bawa. Seraklah suara saya akhirnya.

Jelang dhuhur, demo usai. Dan para santri beristirahat di masjid Agung lalu menunaikan salat. Itu kali pertama saya salat di masjid yang dibangun pada abad 18  itu oleh Sultan Mahmud Badarudin I Jaya Wikrama. Mewah terasa pokoknya masjid itu. Nampaknya, berdirinya masjid yang berarsitektur Indonesia, Cina, dan Eropa ini menjadi kebanggaan wong kito.

Palembang, untuk ketiga kalinya saya kunjungi kemarin (30/3/), meskipun tanpa perencanaan matang. Tapi lumayan, di hari pertama saya dapat berkunjung ke pusat kuliner yang berada tepat di pinggir sungai Musi, di samping jembatan Ampera. Saya ingat, itu Sabtu siang sekitar pukul 13.00 Wib. Saat sedang perut disergap lapar. Saya memutuskan memesan pindang iwak Patin karena ingin bernostalgia saat-saat di pesantren 13 tahun silam. Makcleb, deh nikmatnya! Apalagi, di depan pusat  jajanan  itu, saya-tanpa meminta langsung disuguhi hamparan sungai Musi dengan riaknya yang menggoda. Anginnya, cuy, segarrrr!

Sambil melahap pindang Patin, beberapa penjual koran berlalu-lalang di depan orang-orang yang sedang menikmati kuliner, termasuk saya. “Koran..koran. Sumeks (Sumatera Ekspres), Tribun Sumsel ada, Sripo (Sriwijaya Pos) ada, Berita Pagi ada, Palembang Pos mau, atau Radar Palembang. Koran nasional juga ada..” begitu kedengaran saya. “Sumeks satu, Bang!” ucap saya.

Pada Senin (1/4), yang merupakan hari terakhir saya di Palembang, saya berkeliling lagi di sepanjang pertokoan dan beberapa mall megah. Saya pikir, karena ini hari terakhir, maka saya harus benar-benar memuaskan diri di kota yang pada 2012 pernah menjadi tuan rumah Sea Games ini. Selama di Palembang, saya pun pernah mencoba naik Trans Musi-semacam bus way kalau di Jakarta. Naik bus kota pun saya coba. Trans Musi Rp 4000 ribu/orang, sementara bus kota Rp 3000/penumpang. Jauh dekat. Bedanya, kata kawan saya-naik bus kota murah, dihibur pengamen, tapi rawan copet. Di Trans Musi, ber-AC, tapi jalannya agak lambat.

Merasa puas berkeliling Palembang, maka saya pun ke Indralaya-tempat pesantren saya dulu. Saya pun naik bus yang jurusan ke sana. Saya ingat, warna bus itu bercat hijau diselingi putih-putih, tapi dominan cat putih dan bertulisan “Bus Angkutan Khusus”. Entah maksudnya bus khusus kemana. Yang jelas, bus itu saya naiki dengan perasaan enjoy saja tanpa tekanan dari apa pun dan dari siapa pun.

Sebelum bus yang saya tumpangi sampai di Indralaya-sekarang menjadi ibukotanya Kabupaten Ogan Ilir, saya sempat iseng bertanya ke penumpang bus di sebelah saya. Bapak-bapak, bukan ibu-ibu, apalagi cewek muda yang sebenarnya-awalnya saya berharap begitu. Tapi tak kesampaian.

“Bang, berapa ongkos ke Indralaya, ya?”

“Tujuh ribu.” Hening sejenak. Saya bertanya ke penumpang karena penumpang itu jujur, berbeda bila bertanya ke kondektur. Bisa saja dimanipulasi. Bukan berpikir yang enggak-enggak. Apalagi, saat itu  yang ada di dekat saya bukan kondektur, tapi si bapak itu. Titik. Awalnya, saya tak menyangka kalau bapak itu malah balik bertanya ke saya.

“Memang dari mano, Dek?”

“Dari tempat teman, di sinilah, Sukarami.”

“Bukan orang Palembang, ya, Dek?”

“Bukan, Bang! Dari Bengkulu, Bang.”

“o..Bengkulu. Bengkulu, ya? Adek asli Bengkulu?”

“Ya, Bengkulu, Bang. Bukan, orang tua saya transmigran dari Tasikmalaya dulu, Bang.”

“Bengkulu itu daerah tertinggal, Dek! Lambat nian majunya. Maaf, ya , Dek. Abang bukan apa-apa. Abang ni paham daerah sumatera. Bengkulu itu daerah pelosok nian. Bapak kau itu salah tempat, kenapa transmigrasinya ke Bengkulu dulu. Coba ke Palembang sini transmigrasinya, jadi orang kaya bapak kau, Dek! Lihat di Palembang ini, masyarakatnya enggak bakal kekurangan air, beda dengan di daerah uong. Lihat saja, sungai Musi yang begitu berlimpah air,”  ujar si bapak di sebelah saya. Saya mengangguk-angguk sedikit sambil menatap wajahnya. Dalam hati pun, saya sulit membantah omongan bapak ini. Memang mau bantah apa, coba?

“Orang transmigrasi itu yang diukur kesuksesan. Buat apa pindah dari Jawa ke Sumatera kalau tambah sengsara. Di Palembang ini, khususnya di Sumsel, Dek, orangtuanya dulu yang transmigrasi ke sini, anak-anaknya sudah banyak jadi uong, jadi pejabat, jadi kepala dinas ini-itu, pengusaha sukses, jadi bupati, jadi wakil bupati, pokoknya hidupnya lebih mapan dibandingkan sebelum orangtua mereka transmigrasi,” tutur bapak itu.

“Sumatera ini karakter orang-orangnya keras, Dek. Kalau enggak bisa mengimbangi, matilah kita. Kuncinya, mau hidup di sumatera ini hanya ada dua: jujur dan ulet. Itu aja. Sekali lagi, kalau saya ingat Bengkulu, ya Bengkulu itu provinsi paling tertinggal, Dek!”

“Jadi, siapa yang salah, Bang, orangtua saya transmigrasi ke Bengkulu kan ikut program pemerintah? Kalau Bengkulu tertinggal, itu juga siapa yang disalahkan, Bang?” tanya saya ke penumpang itu- yang sebenarnya juga bukan asli Palembang, ia merantau sejak 1981 dari Medan.

“Kalau transmigrasinya enggak salah, cuma, orangtua kau, sebelum memutuskan bertransmigrasi tak mencari tahu dulu informasi lebih jauh tentang sumatera ini, terutama saat itu Bengkulu. Misalnya, bagaimana keadaan geografisnya, wilayahnya, berpeluang bagus atau tidak. Pokoknya informasi lengkap tentang gambaran sumatera itu seperti apa. Intinya, orangtua kau tu kurang informasi. Sementara pemerintah, tak tahu menahu, yang penting programnya jalan. Tidak memikirkan ke depannya rakyatnya mau seperti apa setelah transmigrasi. Pemerintah itu kan dari dulu hanya bisa bohong saja, janji manis,” ungkap bapak itu bersuara kencang.

Bus yang membawa saya sampai di Indralaya. Sebelum turun, saya minta nomor hape bapak itu. “Nantilah, Bang, kalau saya ke Palembang lagi saya kontek Abang.”

2 thoughts on “Bengkulu itu Pelosok?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s