Tersesat di Griya Hero

Saya sudah prediksi, saya bakal tersesat pulang dari masjid itu. Tapi, pikir saya, biarlah tersesat yang penting enggak nyampe pulau Jawa. Paling-paling masih di Palembang inilah. “Tau jalan, dak? Gek kesesat kau!” kata teman saya di depan rumahnya. Saya tersenyum saja mendengar begitu. Lantas keluar rumah. “Nyantai bae bro, kalau tesesat paling di sinilah,” timpal saya.

Saya terus berjalan. Belok kiri sedikit, ada warung, lalu belok kanan dan lurus. Saya terus mencari-cari sumber adzan magrib berada. Mata sambil celingak celinguk, tapi tampak bukan seperti bukan orang bingung. Karena kalau terlalu tampak, orang yang lagi nongkrong pasti bakal curiga kalau saya ini orang baru. Perjalanan diteruskan. Adzan masih belum tuntas. Tak berapa lama, ketemu lagi simpang 3. Lalu saya beranikan diri belok kiri. Lurus sedikit, eh ada simpang 3 lagi. Bissmillah, belok kiri. Halaman masjid sudah di hadapan.

Enggak wudhu lagi, saya nyelonong saja masuk masjid. Ngapain wudhu lagi, toh tadi sebelum berangkat udah. Tapi, di tempat wudhu, di sebelah kanan masjid itu nampak 2-3 anak sepantaran SD lagi membuka keran. Cuuurr. “Cepet, uong la komat,” terdengar salah satu anak tadi bilang begitu.

Lubang hidung saya terus membanjir. Belum ada yang mampu menghentikannya. Padahal, sore sebelum magrib obat apotik tertelan 3 pil. Pokoknya, selain hidung jadi meler, badan pegal dan agak panas. Huh, suasana enggak enak banget, deh. Saya tahu, saat itu saya sedang tidak berada di rumah saya, tapi sedang numpang di daerah tetangga, kota Palembang.

Rakaat pertama dan terakhir salat magrib ditunaikan. Pada sujud terakhir, saya sengaja mengadukan permasalahan yang saya rasakan kepada Tuhan. Sederhana. “Tuhan, kuatkanlah hamba-Mu ini. Sehatkanlah badanku. Lendir yang mengalir di hidungku, kalau memang itu mengganggu aktivitasku, tolong alirkankan dulu ke orang lain ya Tuhan, yang kira-kira orang itu sanggup menerimanya. Tuhan, aku bukan tak sanggup, tapi kalau dengan mengalirnya lendir di hidungku terus menerus ini menggangguku berhubungan dengan-Mu, aku rasa itu percuma saja ya Tuhan. Kalau memang tidak mengganggu, sederas apapun aliran di hidungku tetap aku terima. Sekali, tak sanggup aku berharap selain kepada-Mu.”

Lubang hidung saya malah terasa banjir, tapi tak separah di Jakarta. Jemaah yang lagi khusuk berdzikir harus sesekali mendengarkan suara tarikan hidung ini. Sreeekk. Sreeeekk. Satu-dua, bahkan tiga jemaah saya lihat mereka memerhatikan saya. Saya terpaksa cuek, meski keki. “Kalau enggak suka ngomong oi..,” celetuk hati saya.

Sang imam masjid berbalik arah ke jamaah. “Bapak-bapak jamaah sekalian (padahal, di belakang itu ada juga jamaah ibu-ibu, dan saya merasa bukan bapak atau bapak-bapak), ini ada permintaan dari tetangga kita supaya jamaah masjid ini membacakan surat Yasin karena telah menempati rumah barunya yang sudah 4 hari di komplek perumahan kita. Jadi, dimohon, setelah ini jangan dulu pulang. Terimakasih,” kata yang jadi imam.

Sekitar 20-an orang di dalam masjid itu yasinan. Gemuruh terdengar. Hidung saya tambah meler. Saya pun cepat-cepat keluar masjid. Cari sendal saya dan berjalan di gang sebelah masjid. Di depan nampak gelap, tapi tak gulita. Bertemu simpang 3. Di sana, saya agak aneh dan curiga. “Bener, enggak ya ini jalan tadi? Duh, lupa lagi. Tadi perasaan enggak ada pohon ini, kok sekarang ada. Kok juga ada tiang listrik, tadi enggak ada. Ya udah, lurus aja, deh,” diam-diam hati saya penuh khawatir.

Hati besar saya merasa, saya ini salah jalan. Bukan ke sini jalannya. Saya benar-benar linglung di sana. Entah di sebelah mana. Komplek perumahan ini begitu luas serta diselingi banyak gang. Saya berusaha menenangkan hati. Posisi saya saat itu di tengah jalan. Sepi. Kanan-kiri rumah dengan pagar terkunci. Sebagian lampu depan rumah menyala, yang lain mati. Di tengah kegamangan itu saya hubungi kawan saya yang ada di rumah, yang sebenarnya tidak jauh dari posisi masjid tadi berada. “Tersesat!” kata saya.

Saya terus berjalan, kira-kira 100 meter ke depan dari posisi saya berdiri. Saya masih merasa, jalan ini salah. Saya lantas balik lagi dan terus berjalan lalu belok kanan. Kini, saya berada di belakang masjid, dan ternyata masjid semula di mana saya salat magrib tadi. “Waduh, kok kesini, ya,” hati saya mengatakan begitu. Saat itu, saya belum memberanikan diri bertanya ke orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar jalan itu. Memang mau tanya gimana? Apa yang mau saya tanyakan?

Kenapa saya enggak mau bertanya padahal di kompleks perumahan itu banyak orang? Pertama, nama bapak kawan saya itu, saya benar-benar belum tahu siapa namanya. Minimal, kalau tahu saja nama bapak kawan saya tadi, tetangga kompleks sekitar sana mengenal sosok yang saya tanyakan. Tidak tahu pun, saya bisa memberikan opsi lain, misalnya,”Maaf, pak, tahu rumah bapak anu yang kerja di apotik anu?”. Kebetulan, bapak teman saya itu kerjanya sebagai apoteker di sebuah apotek di kota Pempek itu.

Kedua, saya juga tidak tahu nama gang maupun nomor rumah, apalagi RT/RW-nya tempat tinggal kawan saya tadi. Jadi, apa yang harus saya tanyakan ke orang-orang di sekitar sana ketika saya kebingungan tersesat? Yang ada, kalau saya berani menanyakan yang enggak jelas, bisa jadi orang akan curiga dengan saya. Mana lagi saya plontos kepalanya saat itu. Huh, pokoknya tak berani apa-apa selain mencari sendiri dimana rumah kawan saya itu.

Gawat. Sms saya belum juga dibalas kawan saya. Saya hanya mengira belum dibalasnya sms saya karena beberapa hal. Kawan saya itu sedang salat magrib, mandi, sedang makan, nonton, sedangkan hapenya terbujur kaku di kamar pribadinya. Itu yang saya pikirkan saat itu. Atau, kawan saya ini sengaja tidak membalas sms saya karena ikut gembira atas tersesatnya saya, yang notabene berada di sekitar kompleks perumahannya. Mungkin juga, kawan saya ini tahu ada sms dari saya, mau dibalas tapi pulsanya enggak cukup buat membalas dan lalu ia langsung menjemput/mencari saya sambil bawa motor ke masjid di mana saya salat.

Saya sudah bolak balik ke sana ke mari di kompleks itu. Diperkirakan sekitar 3 kali saya mengelilingi masjid tempat saya salat. Sms yang masuk ke hape saya pun tidak ada. Saat itu, saya hanya berharap sms balasan dari kawan saya. Minimal, kalau dibales, dia saya suruh jemput di depan masjid dan pulang bareng. Sms itu pun tak kunjung tiba. Badan saya gemetaran, ditambah bersimbah keringat belum lagi dua lubang hidung dialiri derasnya luapan lendir. Entah dimana posisinya, saya kemudian balik lagi ke masjid. Jamaah masjid masih belum selesai membacakan Yasin.

Kebingungan bertubi-tubi menghampiri saya. Namun, saya tetap berusaha tenang. Tiba-tiba saya diingatkan dengan sebuah doa dari kitab suci saya atas arahan bapak saya dulu. Kata bapak saya, bila sering membaca ayat itu maka bisa dijauhkan dari sifat lupa. Maka saya pun-sambil sedikit gemetar langsung membaca ayat itu dengan penuh keyakinan.  Hingga 3 kali kalau tak salah saya membacanya. Ayat itu pendek dan saya lupa ayat berapa surat apa. Yang pasti, setelah itu saya sampai juga di rumah kawan saya tadi melewati jalan semula yang saya lewati saat pergi ke masjid.

Tambahan:

Saya tersesat itu di perumahan Griya Hero Abadi, KM 10 Palembang. 10 menit sebelum saya pamit pulang ke Bengkulu, bapaknya kawan saya memberikan kartu nama. Di sana lengkap, ada nama, alamat, no hape dan nama perusahaan tempat bapak kawan saya itu bekerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s