Ibu Ateis, Anak Hapal Quran

Saya merasa ingin tahu soal ada seorang dosen perempuan di Bengkulu- yang para mahasiswa dan sebagian penghuni kampusnya menganggap sang dosen ini penganut ateis. Yang mencengangkan saya adalah- salah satu anak dosen itu hapal Quran. Dosen itu disebut menganut ateisme, karena tiap dia mengajar di kelas, menurut pengakuan adik saya yang diajarnya-katanya ungkapan serta pembicaraannya di hadapan mahasiswa saat mengajar, nampak seperti orang ateis. Saya juga tidak tahu persis, ungkapan seperti apa yang mencirikan kalau ibu dosen itu ateis. Ini hanya cerita adik saya dan temannya, sesaat sebelum berangkat kuliah tadi pagi.

Adik saya terus bercerita di hadapan kawannya itu- soal si ibu dosen tadi yang dibilangnya ateis. Sementara saya, terus mendengarkan sambil sesekali ingin bertanya, tapi saya tahan karena adik saya belum selesai mengomel. Kok ngomel? Ya, ternyata dosen itu kurang disenangi mahasiswanya, termasuk oleh adik saya. “Nilai UAS aku aja dikasih rendah sama ibu itu. Pokoknya males, deh sama dosen itu,” ungkap adik saya diamini kawannya. Saya juga kurang tahu, adik saya dapat nilai jelek karena salah mengisi jawaban, malas mengerjakan tugas, atau dosennya dianggap killer yang tak punya pengertian lebih. I don’t know this!

Meski dibilang si ibu dosen itu ateis oleh mahasiswanya, tapi ada juga yang membuat kagum bahkan ada segumpal keterkejutan. Soal apa? Ya, itu tadi. Anak laki-lakinya yang kini bersekolah di SMPIT, ia hapal Quran. Saya pikir, kalau ibunya ateis, apa mungkin dia mengajarkan anaknya menghapal Quran? Mungkin saja. Atau, makanya saya langsung bertanya ke adik saya. “Suami ibu itu apa kerjanya, emang, Man?” lanjut saya sambil bangun dari tidur-tiduran.

Wong suaminya aja berjenggot panjang,kok! Ya mungkin bapaknya lah yang mengajarkan anaknya hapal Quran. Aku aja sering liat suami ibu itu aktif pengajian. Entah di mana, yang jelas suaminya, kayaknya lebih alim dari si ibunya. Bahkan suaminya aktif di partai…(sensor),” begitu cerita adik saya.

Lantas saya merenung sejenak. Ya, sejenak, enggak pake lama. Kalau anak laki-laki si ibu dosen tadi hapal Quran, wajar. Saya katakan begitu, karena di SMPIT-para muridnya ditekankan harus hapal Quran, minimal juz ke-30. Kalau ada murid yang hapal dari juz 1 sampai 30, itu artinya si murid punya kemauan keras untuk menghapal isi kitab fenomenal umat Islam itu dan orangtuanya di rumah tentu tak luput memberi motivasi pula kepada anaknya.

Lalu kenapa si ibu dosen itu disebut ateis dan punya anak yang hapal Quran, saya kira itu hanya bonus bahan tulisan buat blog saya hari ini. Inginnya saya, saya ingin langsung minta ke adik saya dipertemukan dengan ibu dosen itu, di kampus atau di rumahnya sekedar ingin mencoba menyamakan cerita adik saya. Juga mungkin saya perlu bertemu anaknya yang hapal Quran itu sekaligus silaturahmi dengan ayahnya. Tapi enggak mungkin, saya bukan wartawan.

Ada yang terlewat, ini barangkali selentingan omongan adik saya dan temannya yang sempat terselip di otak. Masih seputar ibu dosen tadi. Memang sempat saya tanya, ibu dosen itu mengajar mata kuliah apa hingga-sebagian besar mahasiswanya menganggap sang dosen disebut ateis. “Ibu itu sebenarnya dosen di jurusan Humas. Ngajar di kelas aku mata kuliah periklanan,” kata adik saya.

Pantas saja si dosen dibilang ateis. Wong dia “ngiklanin” apa yang diyakininya kepada mahasiswanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s