Saat Ban Tertusuk Paku

Kebingungan bertubi-tubi menyambar saya tiba-tiba. Helm yang melekat di kepala belum juga saya lepaskan, saking lupa dimana sebenarnya helm saya letakkan. Pohon seukuran tubuh orang dewasa di seberang jalan hanya diam, tak menanyakan sedikit pun, kalau saya ini sedang dilanda kesusahan. Yang membuat saya hampir marah, saat puluhan daunnya bergelimpangan malah menimpa kepala, tubuh, wajah, bahkan di ujung kuku kaki sebelah kanan. “Ya Tuhan, aku harus berbuat apa?” Saya memutuskan berusaha menenangkan hati, lalu duduk di tubuh trotoar penuh daki itu.

Saya cabut kunci motor, helm diletakkan di atas jok, lalu menyingkir-menjauh ke arah gereja sambil mencari-cari barangkali ada bengkel motor yang masih buka, karena saya tahu sore itu menunjukkan pukul 17.30. Maka saya balik lagi ke tempat semula, dimana motor saya letakkan. “Bang, ban  motor belakang ambo meletus. Sebelah mano ado bengkel. Ambo kini di dekek SDN I?” pesan amat singkat itu saya dendangkan ke seorang kawan, yang tinggal tak jauh dari Pasar Baru Koto-pasar yang langganan dihampiri api (tadinya mau nulis si jago merah, tapi males ah).

Ban dalam dibongkar, diganti dengan yang baru.

Ban dalam dibongkar, diganti dengan yang baru.

Belum percaya kalau kawan saya yang sejak remajanya dihabiskan untuk melaut itu, sigap membalas sms saya. Mungkin, itu pengaruh ketidaktenangan yang saya rasakan, juga akibat belum sepenuhnya mengendalikan pikiran negatif yang menyelimuti saya. Setidaknya, di saat genting seperti itu. “Di depan Tugu Thomas Parr, di sebelah kantor Pos. Ado di situ,” begitu tiba-tiba kawan saya membalas lewat Hp super jadul pemberian saudara di Bandung. Sama jadulnya dengan ban motor, pembawa sial, barangkali.

Paku mungil inilah penyebabnya!

Motor yang baru 9 bulan itu kemudian saya naiki saja, meski ber-ban kempis. Pelan-pelan saya bimbing dia. Belum sampai pada tempat tujuan sesuai petunjuk kawan tadi, di sebelah kanan jalan saya menemukan tempat lusuh, ada tulisan yang menandakan itu tambal ban. Beberapa orang di seberang jalan, melihat saya, tepatnya keanehan pada ban motor yang tak tegang lagi itu. Saya papah lah motor kesayangan itu dan tiba di depan orang yang punya tambal ban. “Siko, parkirkan sebelah siko,” perintah orang bertopi, yang bajunya compang-camping penuh kewajaran itu sambil rokok di tangan kirinya dibuang ke samping kiri.

Biasalah, walau agak ragu aktivitas orang itu saya abadikan juga di Hp  lewat kameranya. “Buek bukti baek yak. Siapo tahu penting. Kelak nanyo ngapo lamo nian, ambo tunjukkan bae foto ko. Kan nyo pecayo. Maso dak pecayo, sih,” pikir saya dalam hati kalau-kalau ada teman, saudara yang menanyakan saya saat tiba di rumahnya atau di tempat lain. Tapi, untungnya sampai detik ini tak ada yang menanyakan soal, ternyata ban dalam motor saya bermasalah alias tertusuk paku seukuran kabel, kabel kipas angin ukuran kecil. “Padahal tadi pagi mandikan motor, kok gak nampak, ya,” sambung saya lagi tak terdengar oleh siapa pun. “Makasih, Bang!” saya langsung ngacir begitu adzan magrib tiba.

 Paku nancap di ban luar, tembus ke ban dalam.


Paku nancap di ban luar, tembus ke ban dalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s