Gelisah Lahirkan Kata

Namanya catatan harian, tentu isinya celoteh mengenai kegiatan harian yang saya rasakan, lihat, serta ha-hal yang menurut kebanyakan orang itu tak begitu penting. Tapi bagi saya, yang tak penting itu menjadi ide buat menulis, terutama menulis di catatan harian berbasis online ini. Karena terkadang, saya merasa gelisah-galau meminjam bahasa kekinian,  jika saya sampai melewatkan aktivitas menulis. Istilah lain yang vulgar, mau tidak mau saya harus melakukan onani kata tiap harinya.

Bagaimana harus memulai dan mengakhiri sebuah tulisan, itu masih menjadi persoalan, sejak pertama kali saya belajar menulis, pun  hingga saat ini. Dan, yang saya rasakan ini, ternyata itu dirasakan hampir oleh semua penulis profesional, penyair,  novelis, cerpenis, bahkan jurnalis pun, terkadang masih banyak yang mengeluhkan hal serupa. Orang bilang, ini momok menakutkan. Hah, momok?

Lantas, saya ingat sederet rumput kalimat yang menyatakan, menulislah apa yang kau pikirkan, dan jangan berpikir apa yang hendak kau tulis! Ini sebenarnya petuah lama dari hasil pemikiran para penulis, namun untuk para penulis pemula seperti saya, itu tak jarang dilupakan. Padahal, ungkapan sederhana bertangkai filosofis  itu, secara tak sadar mengajari kita betapa menulis itu tak sulit.

Maka setiap hari saya selalu dihujani gelisah. Gelisah memikirkan hal-hal yang sifatnya umum, maupuan ke hal sensitif sekali pun. Misalnya saat menyusuri pinggir pertokoan di kawasan pusat perbelanjaan, jalan Soeprapto, terutama pada malam hari, lewat tengah malam, di sana ada beberapa anak-anak tidur berselimut kardus, berbedak debu-debu lantai toko. Yang aneh-mereka lelap seperti tak ada beban. Sebagian pemandangan itu, bagi saya merupakan salah satu paku yang membuat bikin gelisah. Dari kegelisahan yang saya temukan hampir setiap hari, lagi-lagi akan beranak sebuah tulisan.

Yang menggedor kesadaran saya untuk menuangkan ide lewat tulisan, salah satunya karena saya dianugrahi malas untuk berkomentar lewat lisan. Bukan berarti saya-ingin dikategorikan hamba yang tak pandai bersyukur karena tak memanfaatkan mulut ini, tapi-bagi saya berkata-kata lisan pengaruhnya kurang signifikan terjadap perilaku manusia. Apakah tulisan saya sudah mempengaruhi banyak orang? Sampai saat ini pun saya tak pernah memikirkan itu. Tentu, yang saya pikirkan adalah, kalau peraman kata-katamu sudah masak, maka tetaskanlah segera di blog ini supaya berkembang biak.

Banyak orang melambung namanya berawal dari kegelisahan yang mereka rasakan. Novelis feminis berkebangsaan Mesir, Nawal El-Sa’dawi, sebelum melahirkan puluhan karyanya yang berbentuk novel maupun cerpen, ia tentu terlebih dulu gelisah atas kondisi  Mesir yang tertindas di era kepemimpinan Husni Mubarak. Bahkan, hasil kegelisahannya itu berdampak Nawal dijebloskan ke jeruji besi karena dianggap pemerintah Mesir sebagai ancaman.

Gelisah melahirkan karya, juga mengakibatkan terpedaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s