Antologi Kentut

ilustrasi

Bagi saya, saat manusia masih bisa berkentut ria, terlepas kentutnya mendenging maupun hanya  sebatas yang ia rasakan, tentu suatu anugrah tak terkira yang diberikan Tuhan. Sebagian dari kita, entah di rumah sakit atau  di rumah -barangkali ada orang yang tak bisa kentut karena alasan medis atau hal lain, misalnya terkena guna-guna, atau memang ketika lahir sudah begitu. Saya jadi teringat dengan salah satu film berjudul “Identitas”. Di salah satu adegannya ditampilkan bupati atau calon bupati (persisnya agak lupa) masuk rumah sakit dan ia tak bisa kentut. Betapa repotnya situasi saat itu.

Soal kentut memang menjadi trending topic di kalangan kami, teman-teman kami, maksud saya. Mengapa? Salah satu teman saya, yang juga mengakui kalau siapa yang kentut bertanda sehat ini, memiliki kelebihan, yang dibilang tak aneh lagi, karena ada yang bisa kentut hingga beberapa kali dalam beberapa menit dan ia sempat tampil di televisi. Tapi, khusus teman saya ini, bedanya suka kentut “sembarangan” , yang saya perhatikan selama 5 menit lebih kurang ia keluarkan gas itu sampai  7 -10 kali, bahkan lebih. Yang lebih parah, hingga kini teman saya yang satu ini tak juga dilirik produser televisi, minimal unjuk kebolehannya kepada pemirsa.

Kentut teman saya ini kerap kali membuyarkan konsentrasi. Karena saya tahu persis, saat ia, beberapa detik setelah  menyemburkan angin dari anus, tanda-tanda di raut wajanya sangat kentara. Pertama, mulai melebarkan dan melemparkan senyumnya ke orang yang berada di sebelahnya, maupun di sampingnya. Kalau sudah begini, pertanda bahaya datang. Yang memaknai kentut secara mendalam, seperti saya bilang, barangkali orang itu tetap tenang bagaikan air serta tak mudah bereaksi. Saya menduga, mungkin hidungnya hanya digerak-gerakkan, ke kiri, kanan atau atas.

Lalu bagaimana dengan orang yang suka kentut, tapi kurang suka mendengarkan atau menghisap kentut orang lain? Lebih tepatnya, bukan suka menghisap kentut, tapi tak sengaja terhisap saking tak bisa mengendalikan. Maka kembali  pada tipe manusia itu sendiri yang dilekatkan Tuhan beberapa tipe. Bila hasil kentut orang lain dihisap oleh orang yang bertipe cepat “bereaksi”, maka cepat-cepat ia menyemburkan pula komentar, bahkan sumpah serapah. “Kurang ajar, kentut sembarangan ini. Gak diajari apa sama orangtuanya soal etika kentut yang beradab!”

Tanda berikutnya, yang paling menyebalkan kalau teman saya sudah kentut, yakni ia langsung berdiri dan mengibas-ngibaskan celananya. Dan kenapa saya katakan ini sungguh menyebalkan di jagat perkentutan? Karena ulah teman saya yang lantas berdiri lalu pergi itu, sehingga membuat aroma kentut jadi menyebar luas, seantero lingkungan itu, bahkan menyelusup ke gang-gang tempat semut bermukim. Dia duduk tenang saja kentutnya sudah menimbulkan efek tak sedap, apalagi ditambah ia bergerak lalu berdiri. Semakin menyambar hidung-hidung tentu..

Kalau aroma kentut itu seharum kasturi atau minyak telon yang dipakai bayi, saya kira tak jadi soal. Jika saja hembusan kentut itu sudah berlain rasa baunya, semisal bau telur ayam kampung busuk, duren amis, jengkol-kabau, petai Taba Penanjung, bau pahit seperti mayat tenggelam yang baru ditemukan, dan aroma-aroma yang sejenisnya, itu membuat bulu kuduk menjingkrak. Kebetulan, kawan saya ini, semua jenis makanan maupun minuman, hasrat lambungnya tak bisa menahan untuk memilah makanan atau minuman yang sebaiknya dipilih untuk dilahap. All, masuk pokoknya. Maka saya “terpaksa” mengulang teori lama, bau dan tidaknya kentut seseorang tergantung jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi dan seberapa banyak ia minum air putih tiap harinya.

Teman saya tetap ngotot bilang,”Kentut itu tanda sehat,” sambil terus menghisap kretek dan sesekali mengumbar senyum menatap saya. Sekira setahun lebih saya mengenal kawan saya ini, jadi tahu betul aroma kentut khasnya dibandingkan kentut kawan lain. Jika saja kentut kawan saya tadi itu ibarat uang gaji, dan sebagiannya saya tabungkan (yang tak sengaja terhisap), mungkin setahun ini saya bisa membeli barang, setidak-tidaknya yang saya inginkan. Atau, saya kumpulkan kentut-kentut kawan saya itu selama setahun terakhir, bisakah ia dijadikan gas untuk memasak? Tidak saya kira, karena antologi kentut itu, bukan saja membuat risih sebagian orang, tetapi ia dapat pula dijadikan guru kehidupan, terutama buat  saya. Cekidot! Kentutlah sebelum ada larangan.

 

4 thoughts on “Antologi Kentut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s