Adik Saya pun Saya Cubit

Saya sangat teringat terus dengan kenangan masa kecil, terutama saat saya masih SD: saya pernah mencubit kaki adek saya, yang saat itu sedang digendong oleh emak saya. Walhasil, cubitan saya yang super dahsyat itu membuat kaki adik saya berlumur darah. Adik saya, yang bernama Oman, panggilannya lalu menangis gogoakan.

Alasan pencubitan itu lantaran saya jengkel dengan adik saya itu karena manja sama emak saya, inginnya digendong terus. Dikit-dikit minta gendong, dikit-dikit minta nyusu. Itu sebenarnya yang membuat saya penak saat itu. Entah mengapa, kejengkelan saya itu timbul begitu saja. Pelampiasannya, ya itu tadi, kalau enggak salah, kaki adik saya sebelah kiri saya cubit keras-keras!

Di pangkuan emak, adik saya itu, yang kakinya sudah berdarah saya tinggalkan begitu saja karena emak memarahi saya. Dari kejahuan saya lihat emak saya mengelap tetesan darah yang ucrat-acret ke sana ke mari di kaki Oman dengan kain. Saya perhatikan adik saya yang cengeng itu masih saja mengeluarkan sesenggukan.

Saya terus menjauh dari tempat kejadian. Kalau mendekat, tentunya emak pasti mencubit balik saya. Makanya, saya lebih lari, langsung main ke rumah teman yang jaraknya 1000 meter lebih. Lama saya main di rumah teman itu, hingga salat dhuhur plus ashar pun sengaja ditinggal, karena terlena dengan asyiknya bersama teman-teman.

Jelang magrib, saat sayup-sayup ngaji di langgar dusun sebelah saya baru sampai rumah. Anehnya, dan ini yang membuat kesal, adik saya masih saja ngaringkuk di atas pangkuan emak. Padahal, saat itu mau magrib, saatnya emak berwudhu, atau apalah. Ini malah Oman digendong. Kesal banget.

Saya kembali mencubit tangannya kali ini. Adik saya mengerang. Tapi untungnya, cubitan saya tak sekeras cubitan pertama di kaki tadi pagi, jadi belum sempat berdarah. Akhirnya, dan ini yang saya harapkan, dia menangis sejadi-jadinya. Sudah jatuh, tertimpa pula tangga, itu mungkin saya kira perumpaan ngawur!

Cubit-mencubit yang saya saya lakukan terhadap adik terakhir saya itu bukan hanya dua kali itu saja. Hampir setiap hari, saya enggak pernah akur sama adik saya yang kini usinya beranjak tua itu. Ada saja masalah, ada saja yang membuat dia rewel. Dan yang membuat dia menangis, kebanyakan karena ulah saya. Saya paling enggak suka kalau dia digendong emak. Paling Enggak suka!

Perbuatan yang saya lakukan saat kecil itu, ternyata hingga saya berada di tahun 2012 bulan Mei ini terngiang terus. Terkadang ada rasa sesal, bersalah, merasa kasihan ke adik saya, dan beragam ingatan lainnya soal ketidaksenangan saya terhadap perilaku adik saya masa kecil, belasan tahun lalu.

Iseng saya tanya ke adik saya, yang bertinggi hampir mengalahkan tiang listrik itu mengenai apakah dia ingat insiden berdarah yang pernah saya lakukan padanya. “Aku enggak ingat sama sekali apa yang Aa ceritakan, dan juga enggak merasa,” begitu ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s