Sakit

Lagi-lagi yang menjadi inspirasi saya menulis malam ini lantaran sang ponakan, Imam  kesambet flu disertai demam juga lemas badannya. Saya turut prihatin atas itu semua. Saya tahu kalau ponakan  yang sedang menunggu kelulusan UN tingkat SMP/Mts itu mulai dilanda sakit tadi subuh . Makanya, seketika itu juga, sebelum saya memutuskan berangkat kerja saya bilang walau agak memaksa. “Mam, nanti minum obat. Itu ada obat sisa kemarin. Minumnya udah sarapan.  Kalau enggak minum obat, awas!”

Saya hanya bilang begitu ke ponakan yang terlihat lemas itu. Setelah itu, saya tak tahu apa yang dilakukan Imam. Apakah dia sarapan, lalu minum obat yang sudah saya beri, atau tak sarapan tapi obat tetap diminum. Atau, dia tak sarapan, obat pun luput diminum. Yang pasti selanjutnya saya enggak tahu apa yang dikerjakan Imam, sebab saya waktu itu, pukul 08.00 Wib sudah meninggalkan tempat menuju tempat kerja.

Saking akrabnya saya dengan ponakan, selintas, saat saya asyik di lapangan teringat juga wajah Imam yang lunglai, lemas, serta mengkhawatirkan itu. Ha… Cemas lalu menyelimuti saya. Tapi, dalam hati saya berusaha berbaik sangka agar ponakan yang  berbadan kurus itu tetap sehat juga bisa mengurangi hobinya main game. Sebab, selama ini dia punya moto “no day without game”.

Menjelang magrib, barangkali pukul 16.30 lebih saya kembali  ke rumah. Saya buka pintu, dan ponakan saya itu, di pojok kanan di atas kasur yang bertulis “AC Milan”, dia sedang asyik mendengkur, khusuk, dan tak tahu kalau saya pulang selambat itu. Padahal, biasanya, saya sampai rumah tak lebih dari pukul 15.00.

Tak ada yang saya lakukan, selain mengganti baju dinas, buka netbook, lalu mengetik berita tanpa terlebih dahulu iseng mengganggu Imam yang terlelap. “Saya yakin, dia mulai sembuh,” ucap saya di bilik hati.

Pukul 17.05 yang tertera di ponsel unik saya saat itu. Berita yang saya tulis baru selesai dua berita. Ini gawat. Saya takut kalau tepat  pukul 18.00 berita yang saya ketik belum juga tuntas. Saya percepat gerak jari di atas keyboard, sampai-sampai salah pijit huruf pun kerap terjadi.  Wadaw!

Imam datang tiba-tiba di hadapan saya. Saya perhatikan dia belum sepenuhnya bahagia. Ponakan saya itu masih diselimuti rasa sakit, rasa yang tak mengenakkan dirinya, juga saya sebagai pamannya. Saya begitu tak tenang kalau saja ada di antara saudara/keluarga saya yang sakit. Benar-benar dibuat tak tenang. Ketidaktenangan saya itu barangkali bagian dari reflek atau apalah namanya.

Ponakan saya yang mengenakan kemeja hitam kotak-kotak dan bercelana hitam itu, tanpa saya suruh langsung mencaplok tekwan yang ada di meja, di samping netbook dimana saya sedang mengetik. Tekwan yang berlumur mie kuning dan berkuah itu, 15 menit lalu, teman saya mengantarkan di meja saya.

Sebelum pukul 18.20, berita yang saya tulis benar-benar kelar dan sudah saya kirim lewat email ke redaksi. Spontan, meluncur ucapan syukur, dari mulut dan rambut yang belum dicukur. Seketika itu juga, saya lihat di piring yang tadinya penuh tekwan ludes entah kemana. Imam, juga tak berada di tempat, entah juga kemana, bahkan dimana saya tak memikirkannya kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s