Mam, Cewek Suka Dipuji

“Mam, salah satu sifat cewek itu seneng dipuji, lho!,” kata saya spontan dihadapan ponakan saya itu, suatu malam sebelum tidur. Dia belum juga merespon pernyataan saya itu. Saya ulang kembali, kali ini benar-benar tepat di corong telinganya dan dengan suara keras. “MAM, CEWEK ITU MAUNYA DIPUJI, LHO!,” begitu suara saya akhirnya. Ponakan  yang bertubuh kecil itu masih saja cuek, karena saking asyiknya  nge-game di Hp. Sekali lagi, belum juga ada respon positif darinya.

Tersebab dicuekin, saya lantas membelakanginya dan menarik selimut, lalu memejamkan mata sambil hati ini tak terima dengan kecuekannya, meskipun dia ponakan saya asli. Entah sampai mana pelayaran saya di pulau kapuk. Pelayaran saya di pulau entah berantah itu terusik dengan sebuah goncangan keras di tubuh saya. Sayup-sayup terdengar di telinga saya,”Mang, bangun dulu, dunk! Bangun dulu, dunk! Apo kecek mamang tadi? Cepeklah, mang! Imam la sudah main Hp-nya. Cepeklah, Imam penasaran!,” kalau tak salah begitu yang saya dengar. Mata saya terbuka terpaksa dan langsung ambil Hp. Ternyata pukul 23.00 WIB. Seingat saya, saya mulai tergolek sejak pukul 22.00 WIB.

Ponakan saya yang tak lama lagi ikut Ujian Nasional itu mendesak saya supaya meneruskan lebih jauh mengenai kalau seorang cewek itu senangnya dipuji. “Ah, dasar kau, Mam!,” spontan hati saya bilang begitu. “Tapi janji, kalau mamang cerita Imam gak boleh cuek lagi kayak tadi, ya? Ini cerita gratis, lho, Mam! ,” pura-pura serius saya bilang ke Imam. “Satu lagi, kalau mamang sudah cerita, biar Imam percaya, tolong praktekkan nanti, ya?,” desak saya lagi. Imam lantas melepaskan Hp dari tangannya yang juga mungil itu.

“Tau enggak kalau cewek itu, senengnya dipuji, Mam?  Selama ini, selama Imam tahu kalau cewek itu penting, pernah gak memujinya? Atau, Imam malah cuek bebek ke cewek, yang kira-kira Imam sukai atau kurang Imam sukai? Mamang yakin, Imam belum pernah sekedar memujinya, kan? Ngaku aja, lah!,” Tanya saya yang yakin kalau ponakan saya itu sangat pemalu, apalagi dengan cewek.

Imam hanya nyengir pas saya Tanya begitu. Nyengirnya ponakan saya itu mendandakan kalau ia benar belum pernah sama sekali mencoba memuji seorang cewek.  Dia akhirnya, mengaku juga soal itu. “He…iya, sih. Belum pernah kalau itu. Tapi mang, Imam pernah, entah kapan, yang jelas waktu di sekolah, Imam pernah dipuji cewek. Katanya Imam ni ganteng nian,” pengakuan Imam di depan saya.

Saya kejar terus pengakuan ponakan saya itu. “Terus, perasaan Imam, gimana dapat pujian dari cewek itu? Deg-degan, gak? Atau Imam grogi?,” busyet, sampai sana saya ingin tahu respon Imam setelah mendapat pujian, yang mengaku dari cewek di satu sekolahnya itu. “Imam cuek aja ah dipuji begitu. Gak ada perasaan apa-apa, tuh!,” jawab Imam, yakin.

Saya sedikit tahu, salah satu sifat cowok, selain kurang berperasaan (memang tercipta seperti itu) ya cueknya itu, lho. Begitu juga saat ponakan saya itu dipuji cewek, buktinya dia ngaku biasa aja, bahkan tak berpengaruh terhadap suasana hatinya. Padahal, saya secuil punya keyakinan, siapa yang gak senang dipuji seorang cewek? Bohong besar kalau gak seneng, atau gak dipikirkan beberapa jam setelah kejadian. Apalagi, yang memuji itu cewek yang kelihatannya suka sama si cowok, tapi si cowok itu pura-pura gak tahu kalau sebenarnya ia lagi diincer cewek.

“Masa, sih Mam kau cuek-cuek aja pas dipuji cewek itu? Mamang gak percaya, ah! Kalau mamang di posisi Imam,  mamang akan bilang sama si cewek yang muji itu, begini “Aku memang ganteng, kok dari dulu, naksir, ya? Ngaku aja, deh…” gitu aja, mam! Berani gak kayak gitu,” tantang saya ke Imam agak serius. Lagian, saya ingin beritahu ke dia, kalau mamangnya ini sang penakluk  manusia berperasaan tinggi se-jagat dan betapa pede-nya saya.

Imam hanya terdiam. Bisa ditebak, diamnya ponakan saya itu pertanda mengakui apa yang yang saya katakana. Tapi, tiba-tiba dia bilang,”Gak ah, mang! Bener, Imam gak punya perasaan apa-apa!,” bantahnya keukeuh. “Lagian, Imam gak suka sama cewek itu,” lanjutnya. Begitulah pengalaman pertama kali dia dipuji cewek, yang ia tetap bersikap cuek dengan pujiannya itu.

“Yang pasti, Mam. Buktikan aja kalau gak percaya. Tapi, jangan sembarangan muji cewek, bisa-bisa kau kena damprat. Pokoknya, liat kondisi dan situasi. Misalnya, kalau Imam ada perasaan suka sama cewek, langsung aja puji dia. Hai, kamu pakai baju ini tambah cantik aja, gitu contohnya, Mam. Gini aja Mam, kalau Imam ada niat suka sama cewek dan mau memuji tapi bingung kata-katanya, hubungi aja mamang, ya. Dijamin, cewek yang kau puji klepek-klepek hatinya, atau minimal dia ingat Imam,” kata-kata saya akhirnya menutup percakapan malam itu.

4 thoughts on “Mam, Cewek Suka Dipuji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s